Ternyata pegawai yang Fokus Satu Tugas Lebih Produktif daripada yang Serba Bisa!
Admin : 24/10/2026

Banyak owner laundry merasa beruntung kalau punya pegawai yang bisa mengerjakan apa saja, mulai dari menerima pelanggan, mencuci, melipat, sampai menangani pembayaran di kasir laundry sekaligus dalam waktu yang sama. Pegawai seperti ini sering dianggap paling berharga karena dianggap paling fleksibel dan hemat tenaga kerja.
Tapi coba perhatikan lebih teliti, apakah pegawai yang terlihat sibuk mengerjakan banyak hal sekaligus itu benar-benar menyelesaikan semuanya dengan baik? Atau justru hasil kerjanya jadi lebih lambat dan lebih banyak salah dibanding kalau fokusnya tidak terlalu terpecah?
Kenapa Multitasking Terasa Efisien, Padahal Tidak
Multitasking memang terlihat produktif dari luar. Pegawai yang bolak-balik mengerjakan beberapa hal sekaligus kelihatan sibuk dan sigap. Tapi otak manusia sebenarnya tidak benar-benar mengerjakan dua hal dalam waktu bersamaan, melainkan berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lain.
Setiap kali berpindah tugas, ada waktu yang terbuang untuk "menyesuaikan diri" kembali ke konteks pekerjaan sebelumnya. Prosesnya memang cepat, tapi kalau terjadi berkali-kali dalam sehari, akumulasinya bisa signifikan.
Apa Kata Penelitian Soal Task-Switching?
American Psychological Association (APA) mencatat bahwa orang bekerja lebih lambat ketika harus berpindah-pindah tugas dibanding mengerjakan tugas yang sama secara berurutan. Psikolog David Meyer bahkan menemukan bahwa gangguan mental singkat akibat berpindah tugas bisa menurunkan produktivitas hingga 40 persen.
Penelitian dari Harvard Business Review juga menunjukkan bahwa task-switching yang terlalu sering justru menurunkan rasa puas terhadap pekerjaan, karena seseorang merasa tidak benar-benar menyelesaikan apapun secara utuh. Artinya, pegawai yang terus-menerus disuruh pindah tugas bukan cuma kerjanya melambat, tapi juga lebih gampang lelah secara mental.
Bukan Satu Orang Satu Tugas, Tapi Satu Orang Satu Bagian
Bukan berarti satu pegawai harus benar-benar hanya mengerjakan satu jenis tugas saja sepanjang hari, karena di laundry kecil itu sulit dilakukan. Yang lebih realistis adalah membagi pegawai per bagian kerja, misalnya bagian depan yang fokus menangani penerimaan pelanggan dan proses pencucian, lalu bagian belakang yang fokus menyetrika dan packing.
Dengan pembagian seperti ini, pegawai tetap bisa mengerjakan beberapa hal, tapi dalam lingkup yang saling berdekatan dan tidak terlalu melompat jauh antar konteks kerja. Pegawai bagian depan tidak perlu tiba-tiba disuruh menyetrika di tengah antrian pelanggan, begitu juga sebaliknya.
Dampaknya ke Operasional Laundry
Tanpa pembagian yang jelas, pegawai sering dipaksa bolak-balik antar bagian, misalnya sedang menyetrika lalu tiba-tiba harus melayani pelanggan di depan, kemudian kembali lagi ke setrikaan yang tertunda. Cara kerja seperti ini biasanya butuh waktu lebih lama menyelesaikan semuanya dibanding kalau pembagian bagiannya sudah jelas sejak awal.
Belum lagi risiko kesalahan yang meningkat, misalnya cucian pelanggan tertukar atau pembayaran yang salah catat karena perhatian pegawai terpecah ke banyak hal sekaligus di waktu yang bersamaan.
Atur Pembagian Bagian Lewat Aplikasi
Membagi pegawai ke bagian depan dan bagian belakang akan lebih mudah dijalankan kalau owner juga punya cara untuk mengatur siapa bertanggung jawab atas apa. Di Bilas, owner bisa mengatur hak akses tiap pegawai sesuai bagian kerjanya di aplikasi, termasuk siapa yang bertanggung jawab memegang kasir laundry setiap shift, sehingga pegawai bagian depan dan bagian belakang punya ruang kerja masing-masing yang jelas tanpa tumpang tindih.
Dengan pembagian yang lebih rapi, tiap bagian bisa fokus menyelesaikan tugasnya lebih cepat dan lebih sedikit salah, dibanding semua pegawai dipaksa serba bisa menangani segala sesuatu secara bersamaan.

Fokus per Bagian Lebih Penting daripada Serba Bisa
Punya pegawai yang fleksibel memang penting, tapi bukan berarti satu orang harus menangani semuanya sekaligus tanpa pembagian yang jelas. Dengan membagi pegawai per bagian kerja, seperti bagian depan dan bagian belakang, operasional laundry bisa berjalan lebih fokus, hasilnya lebih rapi, dan pegawai juga tidak kewalahan bolak-balik menangani hal yang bukan fokus utamanya.







